Iklan Dua

Sentilan Sekda Penajam di Apel Pensiun: Ketakutan Terbesar ASN Bukan Hilang Gaji, tapi Kehilangan Relevansi

$rows[judul]

Porosnusantaranews, PENAJAM – Kehilangan jabatan atau merosotnya pendapatan bulanan kerap dianggap sebagai momok utama bagi seorang pegawai yang memasuki masa pensiun. 

Namun, Sekretaris Daerah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Tohar, punya sudut pandang lain yang lebih menohok saat melepas purna tugas Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Sodikin, dalam apel resmi di halaman Kantor Bupati PPU, Senin, 2 November 2026.

Di hadapan barisan aparatur sipil negara (ASN) dan jajaran kepala dinas, Tohar melontarkan sebuah refleksi psikologis mengenai hilangnya eksistensi diri pasca-pensiun. 

Ia mengutip kecemasan mendalam yang pernah diutarakan seorang mantan akademisi senior di Indonesia.

“Ketakutan terbesar saya setelah pensiun bukanlah kehilangan penghasilan, melainkan kehilangan relevansi—ketika pendapat kita tidak lagi didengar dan keberadaan kita tidak lagi dianggap penting,” ujar Tohar membedah realitas dunia pasca-birokrasi.

Bagi Tohar, pensiun secara administratif hanyalah batas formalitas kertas. Nilai kemanfaatan seorang pensiunan birokrat seharusnya tidak lantas mati seketika, melainkan bertransformasi menjadi sumbangan pemikiran dan rekam pengalaman yang tetap berharga bagi pembangunan daerah.

Sodikin sendiri bukanlah orang baru di jajaran pemerintahan PPU. Pria yang menutup lembaran kariernya setelah mengabdi selama 29 tahun 9 bulan ini merupakan salah satu saksi sekaligus aktor sejarah berdirinya Kabupaten PPU.

Mengawali karier di Tanah Grogot, Sodikin memutuskan hijrah ke Penajam pada 2002—tepat di masa awal kabupaten ini dimekarkan. 

Selama hampir seperempat abad, ia melanglang buana ke berbagai pos. Mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Sekretariat DPRD, dinas pertambangan, hingga posisi terakhirnya sebagai staf ahli.

Di penghujung masa baktinya, Sodikin menitipkan catatan kritis bagi para juniornya yang masih aktif di dalam sistem.

Ia mengingatkan bahwa kungkungan regulasi dan beban kedisiplinan yang kaku acap kali menjadi pemicu stres utama di kalangan ASN jika tidak disiasati dengan kesehatan mental yang baik.

“Duka dalam menjadi ASN tentu ada, karena kita terikat dengan aturan dan kedisiplinan. Namun, kalau semua itu kita jalani dengan senang hati dan rasa syukur, tentu tidak menjadi masalah,” kata Sodikin.

Ia mewanti-wanti generasi penerus birokrasi di PPU agar tidak sekadar mengejar status sosial, melainkan mencari keberkahan kerja melalui kontribusi riil yang dirasakan langsung oleh masyarakat.(adv)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)