Porosnusantaranews, PENAJAM — Dua organisasi besar di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, bersinergi menggelar aksi sosial di tengah perayaan hari jadi mereka.
Perempuan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) PPU menggelar aksi donor darah massal di RSUD Aji Putri Botung pada Kamis, 5 November 2026.
Langkah kolaboratif ini sengaja dibidik untuk membantu mengamankan pasokan stok darah di bumi Benuo Taka yang sering kali menipis.
Peringatan HUT PGRI ke-81 dan HUT DWP ke-27 ini pun bertransformasi menjadi gerakan kemanusiaan yang konkret di hilir pelayanan kesehatan.
Ketua Perwakilan PGRI, Gustin Winaria, mengungkapkan bahwa aksi ini dirancang dengan melibatkan puluhan perwakilan dari kedua belah pihak.
"Sasaran peserta yang dilibatkan berjumlah total 50 orang, yang dibagi secara merata masing-masing 25 orang dari unsur DWP Kabupaten dan 25 orang dari pihak PGRI," kata Gustin.
Meski antusiasme peserta yang datang memenuhi loket pendaftaran cukup melimpah, realisasi pengumpulan kantong darah menghadapi tantangan di meja skrining.
Sejumlah kendala medis yang ditemukan saat pemeriksaan awal membuat tidak semua pendaftar lolos menjadi pendonor.
• Target Awal: Melibatkan 50 peserta dari unsur guru dan istri aparatur sipil negara.
• Kendala Lapangan: Pemeriksaan medis awal (tensi, hemoglobin, dll) menggugurkan sejumlah calon pendonor.
• Evaluasi Ke Depan: Memperketat persiapan fisik peserta sebelum hari pelaksanaan.
Ketua DWP Kabupaten PPU, Riawati Koriah Tohar, mengakui pentingnya evaluasi dan persiapan yang lebih matang untuk gelaran serupa di masa depan.
Namun, ia menegaskan esensi kegiatan ini telah tercapai, yakni membangun solidaritas antar organisasi yang berdampak langsung bagi masyarakat luas.
"Kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang dengan persiapan yang lebih matang, sehingga kuota serta target perolehan kantong darah dapat tercapai secara optimal," ujar Riawati.
Melalui gerakan ini, kedua organisasi membuktikan bahwa hari jadi tidak sekadar urusan seremonial, melainkan momentum untuk menyelamatkan nyawa sesama.(adv)
Tulis Komentar