Oleh: Pandhu Samudra
Porosnusantaranews,KUKAR — Ramadan selalu punya cara tersendiri untuk meninggalkan jejak di hati. Perlahan ia datang, mengisi hari-hari dengan ketenangan, lalu pamit dengan menyisakan rindu. Di sebuah sudut Kutai Kartanegara, tepatnya di Desa Muara Enggelam, momen-momen menjelang berbuka tak sekadar soal menunggu waktu, melainkan tentang merawat rasa—rasa syukur, kebersamaan, dan kedekatan dengan alam.
Muara Enggelam bukan desa biasa. Ia dikenal sebagai “desa tanpa daratan”, di mana air bukan sekadar lanskap, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari. Rumah-rumah berdiri di atas permukaan danau, perahu menjadi alat mobilitas, dan air adalah halaman depan sekaligus ruang berkumpul.
Di tempat inilah, tradisi “Nyeranting Bulan” hidup dan terus dijaga.
Menjelang senja, ketika cahaya matahari mulai melembut, warga perlahan keluar dari rumah masing-masing. Tak ada hiruk-pikuk, tak ada kesibukan yang tergesa. Sebagian membawa alat pancing, sebagian lagi menuju perangkap ikan yang telah dipasang sejak pagi. Ada pula yang sekadar mengayuh perahu kecil, menyusuri Danau Melintang yang tenang.
Semua dilakukan dengan ritme yang sama: pelan, damai, dan penuh kesadaran akan waktu yang sedang berjalan menuju magrib.
“Nyeranting Bulan” bukan hanya aktivitas menunggu berbuka. Ia adalah ruang jeda. Di antara lapar dan haus yang ditahan seharian, ada kesempatan untuk kembali menyatu dengan alam. Air yang tenang, semilir angin, dan langit senja yang berubah warna menjadi teman setia.
Di atas perahu kecil, warga menyaksikan langit yang perlahan beralih dari kuning keemasan menjadi jingga kemerahan. Tak jarang, percakapan ringan mengalir, tawa kecil pecah, atau justru keheningan dipilih untuk menikmati suasana. Semua terasa sederhana, namun justru di situlah letak kehangatannya.
Tradisi ini juga menjadi pengikat sosial. Tanpa disadari, “Nyeranting Bulan” menghadirkan kebersamaan yang alami. Warga saling menyapa, berbagi cerita, bahkan hasil tangkapan. Tidak ada sekat, tidak ada jarak—hanya hubungan antar manusia yang terjalin apa adanya.
Ketika azan magrib akhirnya terdengar, suasana pun berubah. Perahu-perahu kembali, aktivitas berhenti, dan warga pulang ke rumah masing-masing. Sebagian membawa ikan hasil pancingan, sebagian lagi membawa cerita senja yang mungkin tak akan terulang dengan cara yang sama esok hari.
Di Muara Enggelam, Ramadan bukan hanya tentang ibadah yang khusyuk. Ia juga tentang bagaimana manusia berdamai dengan waktu, dengan alam, dan dengan sesamanya. “Nyeranting Bulan” menjadi bukti bahwa tradisi sederhana bisa menyimpan makna yang begitu dalam.
Di atas air yang tenang, di bawah langit senja yang hangat, Ramadan di Muara Enggelam mengalir seperti danau itu sendiri—hening, tetapi penuh cerita. (*)
Tulis Komentar