Keterangan Gambar : Dedy Setiawan, Senior HSE Advisor (kiri). Saat ini, ia terlibat dalam proyek pengeboran bersama PHKT.
Porosnusantaranews,PEKERJA di rig pengeboran lepas pantai bukan sekadar soal mencari minyak dan gas bumi. Di balik aktivitas pengeboran yang berlangsung 24 jam tanpa henti, ada tanggung jawab besar menjaga keselamatan seluruh kru di tengah laut.

Muhammad Ato
Itulah yang dijalani Dedy Setiawan SKM., MM., Senior HSE Advisor di perusahaan pengeboran COSL. Pria yang telah 24 tahun berkecimpung di industri migas itu kini terlibat dalam proyek pengeboran bersama PHKT di wilayah perairan Balikpapan hingga Selat Mahakam.
“Alhamdulillah, saya sudah 24 tahun bekerja di migas. Selama itu saya menangani pekerjaan pengeboran di dalam maupun luar negeri,” ujarnya.
Sebagai HSE Advisor, tugas utama Dedy memastikan seluruh operasional pengeboran berjalan aman sesuai prosedur keselamatan kerja. Ia juga bertanggung jawab mengawasi penerapan aturan pemerintah maupun standar internasional di area rig.
“Yang kami pastikan adalah seluruh kru, baik nasional maupun internasional, mematuhi aturan kesehatan dan keselamatan kerja,” katanya.
Setiap hari, aktivitas dimulai dengan briefing atau toolbox meeting untuk membahas pekerjaan selama 12 jam ke depan. Dalam rapat itu, tim mengevaluasi potensi risiko pekerjaan, mulai lifting operation hingga pekerjaan panas seperti pengelasan dan pemotongan di sekitar sumur.
Menurut Dedy, pekerjaan di area sumur harus dilakukan sangat hati-hati karena potensi keluarnya gas dari bawah tanah selalu ada.
“Kita harus memastikan pengecekan gas dilakukan sebelum pekerjaan dimulai,” jelasnya.
Selain melakukan pengawasan lapangan, Dedy juga rutin membuat laporan harian HSE kepada klien serta memberikan pelatihan internal kepada kru rig.
Dalam sehari, para pekerja rig menjalani sistem kerja 12 jam nonstop. Meski begitu, perusahaan tetap memberikan waktu istirahat, ibadah, dan coffee break bagi seluruh pekerja.
“Kami tetap punya waktu untuk salat, makan siang, dan istirahat. Jadi dalam 12 jam kerja itu tetap ada hak pekerja yang diberikan,” ucapnya.
Bekerja jauh dari daratan tentu memiliki tantangan tersendiri. Bagi Dedy, tantangan terbesar adalah memastikan seluruh pekerja memiliki pemahaman yang sama terhadap potensi bahaya di area kerja.
“Terutama ketika pekerjaan melibatkan banyak orang dan punya risiko kecelakaan tinggi. Semua harus paham bahayanya dan tahu bagaimana mengendalikan risiko itu,” tegasnya.
Soal rindu keluarga, Dedy mengaku kondisi saat ini jauh lebih baik dibanding awal dirinya bekerja di industri migas. Jika dulu komunikasi sangat terbatas dan mahal, kini teknologi internet membantu kru tetap terhubung dengan keluarga.
“Kami bisa video call saat istirahat atau setelah kerja,” katanya.
Tak hanya itu, fasilitas hiburan di rig juga cukup lengkap untuk mengurangi rasa jenuh. Mulai gym, tenis meja, alat musik hingga karaoke tersedia bagi pekerja selama berada di tengah laut. Di setiap kamar juga tersedia televisi yang terhubung jaringan internet.
“Jadi suasananya tidak terlalu membuat homesick,” tambahnya.
Dalam industri pengeboran lepas pantai, keselamatan menjadi aturan utama yang tak bisa ditawar. Seluruh pekerja wajib menggunakan alat pelindung diri (APD), mengikuti prosedur kerja, serta melengkapi dokumen permit to work sebelum pekerjaan dimulai.
Menariknya, setiap pekerja memiliki hak menghentikan pekerjaan apabila ditemukan kondisi tidak aman.
“Budaya stop work authority ini penting supaya semua orang merasa saling menjaga,” jelas Dedy.
Selama puluhan tahun bekerja di rig, Dedy juga pernah mengalami situasi menegangkan. Salah satunya ketika terjadi indikasi kenaikan gas atau cairan dari dalam sumur ke permukaan.
Situasi itu dikenal sebagai well control dan membutuhkan respons cepat dari seluruh tim pengeboran.
“Kalau tekanan dari bawah sampai muncul ke permukaan, itu sangat berbahaya. Semua supervisor harus sigap memastikan sumur tetap aman,” ungkapnya.
Selain itu, proses perpindahan rig atau rig moving juga menjadi momen yang penuh risiko. Sebab, struktur kaki rig yang ditanam puluhan meter ke dasar laut bisa saja mengalami ambles akibat kondisi tanah yang lembek.
“Kadang ada kekhawatiran kaki rig terprosok di satu sisi. Itu juga sangat menegangkan,” katanya.
Meski penuh tantangan, Dedy mengaku tetap mencintai pekerjaannya. Baginya, pengalaman dan kebersamaan antar kru menjadi alasan utama bertahan di industri migas selama puluhan tahun.
“Yang paling membuat betah adalah rasa kekeluargaan. Selama 28 hari bekerja di atas rig, kami hidup bersama dengan tujuan yang sama,” ujarnya.
Ia menegaskan, di atas rig tak ada lagi perbedaan antar perusahaan maupun warna seragam kerja. Semua kru memiliki satu target, yakni menyukseskan operasi pengeboran tanpa kecelakaan kerja maupun insiden sumur.
“Yang paling penting, pekerjaan selesai dengan aman dan target klien tercapai,” pungkasnya. (*)
Tulis Komentar