Iklan Dua

Efisiensi Tekan Bisnis Konstruksi, PT Mitra Lindung Sarana Optimistis Proyek Kembali Bergairah Mulai Juli

$rows[judul]
Porosnusantaranews,BALIKPAPAN – Kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada sektor konstruksi menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha. Meski demikian, PT Mitra Lindung Sarana (MLS) tetap optimistis aktivitas proyek akan mulai meningkat pada paruh kedua 2026, terutama dari sektor industri swasta.

Optimisme tersebut disampaikan Direktur PT Mitra Lindung Sarana, Agung Wahyono, ST, usai kegiatan Business Partner Gathering 2026 yang digelar di Hotel Novotel Balikpapan, pada Kamis (9/7/2026).



Agung mengatakan, kegiatan customer gathering dan gala dinner merupakan agenda rutin perusahaan sebagai bentuk apresiasi kepada pelanggan, mitra pemasok, serta seluruh karyawan.

"Setiap tahun kami mengadakan customer gathering dan gala dinner sebagai bentuk apresiasi kepada customer, supplier, serta seluruh karyawan. Tahun ini tantangannya cukup besar karena banyak perubahan, tetapi kami optimistis dapat melewati kondisi ini dengan dukungan para customer dan supplier," ujarnya.

PT Mitra Lindung Sarana merupakan perusahaan yang berkantor pusat di Kompleks Pesona Mahakam Ruko Nomor 18, Jalan Syahrani Dahlan, Harapan Baru, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda. Perusahaan bergerak sebagai kontraktor spesialis bahan kimia bangunan.



Layanan perusahaan meliputi pekerjaan waterproofing, flooring, grouting, perbaikan dan perkuatan beton, rubber fender, serta berbagai pekerjaan konstruksi berbasis bahan kimia bangunan lainnya.

Menurut Agung, pasar utama perusahaan berasal dari sektor industri. Sejumlah perusahaan besar yang menjadi pelanggan antara lain Pertamina RU V, Pertamina Patra Jasa, Angkasa Pura Indonesia, Pupuk Kaltim, Kaltim Parna Industri, Kaltim Methanol Industri, Kaltim Prima Coal (KPC) hingga berbagai perusahaan industri lainnya.

"Hampir seluruh customer kami berasal dari industri besar. Itu memang menjadi fokus utama bisnis kami," katanya.

Agung mengakui, sepanjang semester pertama 2026 kondisi bisnis konstruksi cukup berat akibat kebijakan efisiensi yang dilakukan pemerintah maupun sektor swasta.

"Tahun ini memang menjadi tahun yang berat bagi bisnis konstruksi karena efisiensi. Dampaknya sangat terasa, baik di sektor pemerintahan maupun swasta," jelasnya.

Meski demikian, ia melihat adanya sinyal positif sejak Juli. Sejumlah perusahaan mulai membuka tender proyek sehingga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan hingga akhir tahun.

"Mulai Juli ini sudah mulai ada peningkatan, terutama dari sektor swasta. Memang efisiensi masih terasa jika dibandingkan tahun lalu, tetapi kami optimistis bisa tumbuh sampai Desember karena beberapa proyek sudah diumumkan dan akan mulai dikerjakan bulan ini," ungkapnya.

Sebelum memasuki Juli, lanjut Agung, aktivitas proyek relatif sepi. Kondisi ekonomi global turut memengaruhi bisnis perusahaan karena sebagian besar material yang digunakan merupakan produk impor berbasis minyak.

"Produk yang kami gunakan sebagian besar impor dan berbasis minyak sehingga dampak kondisi global sangat terasa terhadap biaya maupun aktivitas usaha," katanya.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, perusahaan memilih memperkuat penetrasi pasar di sektor industri, khususnya perminyakan dan petrokimia.

"Kami memperkuat posisi di sektor industri, terutama migas dan petrokimia seperti Pupuk Kaltim, Kaltim Parna Industri, Kaltim Methanol Industri, hingga Angkasa Pura Indonesia. Itu menjadi fokus untuk mendukung pertumbuhan penjualan," ujarnya.

Ia juga menilai saat ini banyak pelaku usaha masih menerapkan sikap wait and see sambil menunggu kepastian arah kebijakan pemerintah. Menurutnya, apabila kepastian tersebut segera terwujud, pertumbuhan sektor konstruksi akan meningkat signifikan.

Selain itu, Agung berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kenaikan harga material impor yang terus meningkat akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

"Kami berharap ada peran pemerintah, terutama terkait eskalasi harga material impor yang naik cukup signifikan. Dukungan tersebut akan sangat membantu pelaku usaha di sektor konstruksi," tuturnya.

Selain kantor pusat di Samarinda dan kantor operasional di Balikpapan, PT Mitra Lindung Sarana juga memiliki kantor cabang di Jakarta dan Bandung. Keberadaan jaringan tersebut memungkinkan perusahaan mengikuti berbagai proyek strategis berskala nasional. (mto) 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)