Porosnusantaranews,BALIKPAPAN – Aksi gabungan mahasiswa dari PMII bersama sopir truk di Gedung DPRD Kota Balikpapan, pada Senin (4/5/2026), mendapat respons langsung dari Ketua DPRD Kota Balikpapan, Alwi Al Qadri. Usai menemui massa, Alwi mengungkapkan sedikitnya ada delapan tuntutan yang disampaikan.
Salah satu tuntutan utama adalah mendesak agar SPBU di Balikpapan beroperasi 24 jam. Menurut Alwi, pihaknya sudah lebih dulu berkoordinasi dengan PT Pertamina Patra Niaga terkait hal tersebut.
“Kalau tidak dibuka 24 jam, ini berpotensi menimbulkan masalah. Alhamdulillah, Pertamina Patra Niaga merespons baik dan siap mengupayakan operasional 24 jam,” ujarnya kepada wartawan.
Meski demikian, Alwi menekankan bahwa operasional penuh harus diiringi dengan ketersediaan stok BBM. “Jangan sampai buka 24 jam, tapi stoknya kosong. Tadi disampaikan, insyaallah akan diupayakan tetap tersedia,” lanjutnya.
Tuntutan lainnya adalah penambahan kuota BBM untuk Balikpapan. Terkait hal ini, Alwi menjelaskan kewenangan berada di BPH Migas, bukan Pertamina Patra Niaga. Karena itu, DPRD berinisiatif mengajak perwakilan mahasiswa dan sopir truk untuk menyampaikan langsung aspirasi ke BPH Migas di Jakarta.
“Rencananya dua perwakilan mahasiswa dan dua dari sopir truk akan ikut bersama kami. Kita akan berdiskusi langsung terkait penambahan kuota, yang diharapkan tidak hanya dua, tapi bisa lima hingga sepuluh,” jelasnya.
Alwi juga menyoroti kondisi distribusi BBM di Balikpapan yang dinilai janggal. Dari total 19 SPBU yang melayani biosolar, hanya dua yang beroperasi, sehingga menyebabkan antrean panjang hingga ratusan kendaraan.
“Ini bukan pertama kali terjadi. Kelangkaan LPG dan BBM juga pernah berulang. Padahal Balikpapan dikenal sebagai kota minyak dengan produksi besar. Tapi justru masyarakatnya kesulitan mendapatkan BBM,” tegasnya.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan daerah lain di Kalimantan Timur seperti Samarinda, Bontang, hingga PPU yang dinilai jarang mengalami persoalan serupa.
Ke depan, DPRD berharap jumlah SPBU yang menyalurkan biosolar dapat ditambah secara merata di berbagai wilayah kota guna mengurai antrean.
“Minimal lima sampai sepuluh SPBU. Jangan hanya dua. Kalau bisa tersebar di tiap wilayah agar tidak terjadi penumpukan antrean,” pungkasnya. (mto)
Tulis Komentar