Iklan Dua

Menanti Aum Singa Parlemen

$rows[judul]
Catatan Rikmo Kuswanto

Porosnusantaranews,BALIKPAPAN - Surat resmi bernomor 100.1.4.4/II-2415/Set.DPRD yang diteken Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud telah beredar. Besok siang, Senin, 14 September 2026 tepat pukul 14.00 WITA, Gedung Utama Karang Paci di Samarinda akan menggelar Rapat Paripurna Ke-25. Agendanya tunggal dan sarat gengsi: pengucapan sumpah janji Pergantian Antarwaktu (PAW) dari Partai NasDem masa jabatan 2024–2029.

Sosok yang akan melangkah ke hadapan rohaniwan dan pimpinan dewan bukanlah pendatang baru, melainkan kawan lama yang telah malang melintang dalam belantara politik Kalimantan Timur, H. Andi Burhanuddin Solong, S.E., S.H.

Mendengar nama ABS kembali bersiap menduduki kursi parlemen, ingatan saya seketika melayang ke masa 38 tahun silam di Balikpapan. Kala itu, kami berdua hanyalah anak-anak muda yang terbakar oleh idealisme pergerakan dan beradu nasib di jalur aktivisme kota minyak.

Saya tumbuh dalam tempaan ideologi Marhaenisme lewat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) serta Pemuda Demokrat (Marhaen) — garis perjuangan yang selalu curiga pada kemapanan kekuasaan.

Sementara Burhanuddin Solong muda memilih jalan karya kekaryaan bersama Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), organisasi pemuda sayap Golkar yang kala itu menjadi pilar utama Orde Baru.

Secara platform politik, posisi kami bagaikan minyak dan air. Perjumpaan kami paling panas kerap meletup di gedung Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Balikpapan. Forum-forum rapat pemuda kala itu tak pernah berlangsung dingin. Perdebatan mengurai program kerja, membela aspirasi warga kota, hingga berebut pengaruh sering kali berujung pada adu urat leher.

Kami pernah saling tunjuk muka dengan mata menyala-nyala, menumpahkan argumentasi tanpa tedeng aling-aling, bahkan tak jarang telapak tangan menggebrak meja kayu rapat hingga cangkir kopi bergetar, kaca meja pecah !

Namun, di sanalah letak kemewahan etika aktivis angkatan kami. Gebrak meja dan saling serang hanya hidup di dalam batas ruang sidang. Begitu palu rapat ditutup dan melangkah keluar pintu, tensi mendidih itu luruh seketika.

Kami kembali duduk semeja di warung kopi pinggir jalan, saling merangkul pundak, menyulut rokok, dan tertawa lepas tanpa membawa secuil pun rasa dendam atau permusuhan pribadi. Kami berbeda kiblat pemikiran secara tajam, tetapi kami disatukan oleh komitmen batiniah yang sama: kecintaan pada nasib rakyat Balikpapan.

Darah aktivis jalanan itulah yang membentuk DNA kepemimpinan ABS hingga hari ini. Tempaan dari bawah membawanya menakhodai berbagai simpul massa, mulai dari Pemuda Pancasila hingga pucuk pimpinan AMPG. Jam terbang panjang itu pula yang mengantarkannya memegang palu kepemimpinan tertinggi di DPRD Kota Balikpapan selama dua periode berturut-turut, dari tahun 2004 hingga 2014.

Di kursi itulah karakternya mengkristal menjadi figur parlemen yang lugas, ceplas-ceplos, berani menentang kebijakan birokrasi yang lamban, hingga publik dan media lokal mendaulatnya dengan julukan melegenda: “Singa Parlemen”.

Besok, gelanggang baru telah menanti langkahnya di Karang Paci. Panggung DPRD Kaltim jelas menuntut stamina dan perspektif yang jauh lebih luas ketimbang parlemen tingkat kota.

Urusan pemerataan infrastruktur pelosok Benua Etam, sengkarut eksploitasi sumber daya alam, hingga pelayanan dasar publik adalah benteng-benteng persoalan yang membutuhkan ketajaman fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan.

Sebagai sahabat yang pernah adu gebrak meja dengannya di masa muda, sekaligus jurnalis yang terus mengamati denyut kebijakan publik, saya memandang kembalinya ABS bukan sekadar urusan menambal kursi PAW atau nostalgia romantisme masa lalu.

Kursi dewan adalah mandat rakyat yang menuntut keberanian bersuara. Selamat kembali ke gelanggang politik, kawan lama. Rakyat Kalimantan Timur kini menanti, apakah taring dan auman singa itu masih setajam puluhan tahun silam untuk membela kepentingan publik. (*) 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)