Iklan Dua

Harga Beras Medium di Pasar Tangga Arung Turun ke Rp15 Ribu, Pasokan Kukar Diklaim Aman

$rows[judul]
Porosnusantaranews,KUTAI KARTANEGARA – Pergerakan harga beras medium di Pasar Tangga Arung, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menunjukkan penurunan di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap dampak cuaca ekstrem pada produksi pangan. Pemerintah daerah menyebut ketersediaan beras masih mencukupi sehingga masyarakat diimbau tetap berbelanja secara wajar dan tidak melakukan pembelian berlebihan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar, Ananias, menyampaikan harga beras medium yang dipantau di Pasar Tangga Arung turun dari Rp16.000 menjadi Rp15.000. Menurutnya, perkembangan tersebut sejalan dengan kondisi pasokan yang masih terjaga di tengah berlangsungnya musim kemarau.

“Kalau beras hari ini, harganya turun. Untuk beras medium di Pasar Tangga Arung, dari harga Rp16.000 hari ini menjadi Rp15.000,” ujarnya, Kamis (22/10/2026).

Ananias menyebut, pemantauan menjadi kegiatan rutin Dinas Ketahanan Pangan dalam mengikuti perubahan harga komoditas kebutuhan masyarakat. Petugas melakukan pencatatan setiap hari terhadap berbagai bahan pangan, mulai dari beras, daging, ayam, telur, minyak goreng, hingga komoditas hortikultura.

Data harga tersebut kemudian dilaporkan secara berjenjang kepada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Melalui mekanisme itu, perubahan harga di tingkat pasar dapat terpantau sebagai bahan evaluasi ketika terdapat indikasi kenaikan yang berpotensi membebani konsumen.

Ananias mengatakan, penurunan harga beras menjadi salah satu indikator bahwa pasokan komoditas tersebut masih relatif terjaga. Ia mengaitkan kondisi itu dengan kemampuan petani mempertahankan produksi, meskipun sejumlah wilayah menghadapi gangguan akibat kekeringan.

Ia menjelaskan, secara nasional, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Juli 2026 memperkirakan pengaruh El Niño dapat berlanjut hingga awal kuartal I 2027. Kondisi ini menjadi perhatian bagi sektor pertanian karena ketersediaan air berpengaruh terhadap jadwal tanam dan perkembangan tanaman.

"Karena itu, perkembangan harga beras saat ini perlu dibaca bersama kesiapan produksi untuk musim tanam berikutnya," papar Ananias.

Ia menjelaskan, dampak kekeringan terhadap ketersediaan pangan Kukar pada 2026 masih dinilai terbatas secara keseluruhan. Meski demikian, pemerintah daerah mulai mengarahkan perhatian pada potensi gangguan produksi tahun depan, terutama karena sejumlah lahan belum memperoleh kondisi air yang memadai untuk memasuki jadwal tanam.

“Untuk 2026 secara makro itu bisa kita anggap bahwa Kukar ini surplus. Hanya saja yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama di 2027, karena harusnya November ini waktunya tanam, tetapi saat ini kondisi sawah kita masih kering,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan bahwa kekeringan akan menyebabkan kelangkaan beras. Ketersediaan pangan, menurut Ananias, harus dilihat berdasarkan kondisi pasokan aktual dan proyeksi produksi, bukan semata-mata kekhawatiran terhadap perubahan cuaca.

“Kita masih surplus untuk bahan pokok penting. Jadi, untuk masyarakat di Kukar jangan sampai ada kegelisahan bahwa kita akan kekurangan pangan,” tegasnya.

Selain menjaga ketersediaan, pemerintah juga mengandalkan intervensi bantuan pangan bagi masyarakat yang terdampak gagal panen maupun kelompok yang membutuhkan dukungan. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga akses pangan agar gangguan produksi tidak langsung berujung pada kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Meski harga yang disampaikan menunjukkan penurunan di Pasar Tangga Arung, perkembangan tersebut tidak serta-merta menggambarkan harga di seluruh kecamatan. Perbedaan biaya distribusi dan kondisi pasar setempat tetap dapat memengaruhi harga yang diterima masyarakat, terutama di wilayah hulu dan kawasan yang bergantung pada jalur sungai.

"Karena itu kita tetap melakukan pemantauan harga dan ketersediaan secara berkala," terang Ananias.

Ananias berharap masyarakat tetap tenang, menggunakan bahan pangan sesuai kebutuhan, serta tidak melakukan pembelian berlebihan selama pasokan masih tersedia dan pemerintah terus menjalankan langkah pengendalian.

"Pasokan kita aman, bahkan berlebih," tutupnya. (Adv)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)