*Oleh: Ketua KPU Kota Balikpapan
TANGGAL 10 Februari selalu punya makna khusus bagi kita. Hari ini, Kota Balikpapan genap berusia 129 tahun. Usia yang tidak lagi muda. Usia yang menunjukkan kematangan perjalanan. Dari sebuah kawasan pesisir yang dikenal lewat pengeboran minyak pertama pada tahun 1897, Balikpapan kini tumbuh menjadi salah satu kota strategis di Kalimantan Timur.
Ulang tahun kota bukan hanya seremoni. Bukan sekadar panggung hiburan dan spanduk ucapan. Ini adalah titik berhenti sejenak. Menoleh ke belakang. Melihat capaian. Mengakui kekurangan. Lalu melangkah lagi dengan lebih sadar arah menuju cita cita ideal. Menyuguhkan kedamaian dan kesejahteraan bagi penduduknya. Sebagaimana slogannya: bersih, indah, aman dan nyaman. Beriman.
Balikpapan hari ini dikenal sebagai kota jasa dan industri. Data statistik beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi Balikpapan berada di kisaran tinggi dibanding banyak kota lain di wilayah Kalimantan. Indeks Pembangunan Manusia juga konsisten berada di kategori tinggi. Angka kemiskinan relatif lebih rendah dibanding rata-rata provinsi. Inflasi daerah cukup terkendali. Ini bukan kebetulan. Ini hasil kerja panjang banyak pihak.
Tetapi angka tidak boleh membuat kita cepat puas. Kota bukan hanya grafik. Kota adalah manusia. Ada keluarga. Ada pekerja. Ada pelajar. Ada pelaku UMKM. Ada warga pesisir. Ada warga perumahan. Ada yang sejahtera. Ada yang masih berjuang. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan kota bukan hanya pada gedung dan jalan. Tapi pada rasa aman warganya. Akses layanan dasarnya. Kualitas pendidikannya. Kesehatan lingkungannya. Dan kesempatan hidup yang adil.
Balikpapan juga punya ciri khas yang sering diakui banyak orang: relatif tertib, bersih, dan rukun. Keberagaman suku, agama, dan latar belakang bisa hidup berdampingan. Ini aset sosial yang sangat mahal. Sekaligus suatu kebanggaan bagi kita semua. Sebab tidak semua daerah punya fondasi sosial sekuat ini.
Namun tantangan ke depan tidak ringan. Tekanan urbanisasi meningkat. Kebutuhan infrastruktur bertambah. Isu lingkungan makin nyata. Pengelolaan air, sampah, ruang hijau, dan pesisir harus semakin serius. Pertumbuhan tanpa kendali akan menggerus kualitas hidup. Kota harus tumbuh dengan perhitungan. Bukan sekadar cepat, tapi tepat.
Di sisi lain, posisi Balikpapan yang berdekatan dengan kawasan Ibu Kota Nusantara membawa peluang sekaligus tantangan. Peluang investasi terbuka. Arus manusia dan barang meningkat. Aktivitas ekonomi bergerak lebih cepat. Tapi kesiapan tata kelola dan kualitas SDM harus ikut naik. Jika tidak, kita hanya jadi penonton di rumah sendiri.
Di titik inilah peran tata kelola publik menjadi penting. Dan di dalam tata kelola publik, demokrasi memegang peranan utama. Sementara, demokrasi sering dipahami sempit: datang ke TPS, mencoblos, selesai. Padahal tidak sesederhana itu. Demokrasi adalah kebiasaan melibatkan warga dalam arah kebijakan. Demokrasi adalah ruang dialog. Demokrasi adalah mekanisme damai dalam perbedaan pilihan.
Sebagai penyelenggara pemilu di kota ini, saya melihat langsung bagaimana kualitas demokrasi sangat dipengaruhi oleh partisipasi warga. Tingginya angka kehadiran pemilih bukan sekadar statistik. Itu tanda kepedulian. Tanda bahwa warga merasa suaranya berarti. Pemilu yang jujur dan adil bukan hanya menghasilkan pemimpin. Ia menghasilkan legitimasi. Tanpa legitimasi, kebijakan akan rapuh. Dengan legitimasi, pembangunan punya pijakan.
KPU bekerja di hulu demokrasi elektoral. Tugas kami memastikan setiap warga yang memenuhi syarat bisa memilih. Setiap suara dihitung. Setiap proses transparan. Setiap tahapan bisa diawasi. Netralitas dijaga. Integritas dipertahankan. Karena kepercayaan publik adalah fondasi utama.
Founding Fathers kita, Mohammad Hatta, pernah mengingatkan: “Demokrasi hanya berjalan kalau disertai rasa tanggung jawab.” Kutipan ini pendek, tapi dalam. Hak pilih adalah hak konstitusional. Tetapi menggunakannya dengan bijak adalah tanggung jawab moral. Demokrasi yang matang tidak lahir dari sistem saja. Ia lahir dari karakter masyarakatnya. Karakter inilah yang juga menentukan masa depan kota kita tercinta.
Balikpapan ke depan membutuhkan warga yang peduli, bukan hanya menuntut. Warga yang terlibat, bukan hanya mengkritik dari jauh. Warga yang menjaga ruang publik, bukan hanya memakainya. Warga yang ikut mengawasi, bukan hanya berkomentar.
Partisipasi tidak selalu harus besar. Tidak harus selalu formal. Menjaga kebersihan lingkungan adalah partisipasi. Tertib berlalu lintas adalah partisipasi. Mengikuti musyawarah warga adalah partisipasi. Datang ke TPS adalah partisipasi. Semua saling terhubung. Memang kota yang kuat bukan yang tanpa masalah. Kota yang kuat adalah yang warganya mau ikut menyelesaikan masalah.
Balikpapan harus tetap menjadi kota yang inklusif. Semua warga merasa punya tempat. Tidak ada yang tertinggal terlalu jauh. Layanan publik makin mudah dijangkau. Pendidikan makin berkualitas. Lapangan kerja makin luas.
Demokrasi lokal harus makin dewasa. Perbedaan pilihan tidak merusak persaudaraan. Kontestasi tidak memecah kebersamaan. Kritik disampaikan dengan data, bukan amarah. Dukungan diberikan dengan sadar, bukan ikut-ikutan.
Pemerintah kota, penyelenggara pemilu, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat sipil perlu terus berkolaborasi. Tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Tantangan kota modern terlalu kompleks untuk diselesaikan secara sektoral.
Saya juga berharap generasi muda Balikpapan mengambil peran lebih besar. Mereka bukan hanya pengguna masa depan kota. Mereka adalah pembentuknya. Energi, kreativitas, dan literasi digital mereka adalah bahan bakar perubahan.
Akhirnya, ulang tahun kota adalah pengingat bahwa kita berbagi rumah yang sama. Rumah bernama Balikpapan. Rumah yang dibangun oleh sejarah panjang. Dijaga oleh kerja kolektif. Dan ditentukan oleh pilihan kita hari ini. Semoga Balikpapan semakin maju ekonominya. Semakin kuat harmoni warganya. Semakin sehat lingkungannya. Dan semakin matang demokrasinya.
Dirgahayu ke-129 Kota Balikpapan. Mari kita jaga, kita rawat, dan kita majukan bersama. (*)
Tulis Komentar