Iklan Dua

Dinkes Kukar Jemput Bola Layani Ibu Hamil di Wilayah Sulit Akses

$rows[judul]
Porosnusantaranews,KUTAI KARTANEGARA – Akses terhadap layanan dokter spesialis menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Kondisi geografis yang membentang dari kawasan pesisir hingga pedalaman membuat pemerintah daerah perlu menghadirkan pola pelayanan yang tidak sepenuhnya bergantung pada fasilitas kesehatan rujukan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara pun mengembangkan pelayanan langsung ke wilayah yang sulit terjangkau. Selain dokter spesialis anak untuk penanganan balita stunting, layanan serupa juga melibatkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau obgyn untuk menyasar ibu hamil.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara, Ismi Mufidah, mengatakan pelayanan dokter obgyn dilakukan dengan mendatangi lokus yang memiliki keterbatasan akses terhadap pelayanan spesialis.

“Kita menurunkan dokter spesialis kebidanan dan kandungan ke lokus-lokus yang susah terakses oleh pelayanan kesehatan, terutama pelayanan spesialis,” kata Ismi, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, kunjungan dokter obgyn tidak dilakukan tanpa persiapan. Ibu hamil yang menjadi sasaran terlebih dahulu melalui proses screening sehingga dokter dapat memfokuskan pelayanan kepada pasien yang memang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

“Memang sebelum dia datang itu sama dengan untuk balita stunting, itu di-screening,” ujarnya.

Pemeriksaan yang dilakukan mencakup pemeriksaan kehamilan menggunakan ultrasonografi atau USG. Kehadiran dokter spesialis di lapangan juga dimanfaatkan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai kondisi kehamilan dan faktor risiko yang perlu diperhatikan.

Pelayanan tersebut sekaligus menjadi upaya menemukan kehamilan berisiko tinggi lebih awal. Ibu hamil yang menunjukkan kondisi tertentu dapat memperoleh pemeriksaan langsung dari dokter spesialis sebelum diputuskan membutuhkan penanganan lanjutan.

Ismi menjelaskan, screening diperlukan karena jumlah masyarakat yang membutuhkan layanan dapat cukup banyak, sementara kunjungan dokter spesialis ke daerah memiliki waktu dan kapasitas terbatas. Karena itu, pasien yang benar-benar membutuhkan perhatian medis diprioritaskan.

“Kalau yang spesialis kandungan itu kasus yang risiko tinggi yang dirujuk setelah itu, karena tiba-tiba memang tensinya tinggi atau ada kelainan-kelainan kehamilan yang lain,” jelasnya.

Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, pasien dapat diarahkan untuk mendapatkan pelayanan di fasilitas rujukan. Dengan pola tersebut, kunjungan spesialis bukan hanya memberikan pemeriksaan sementara, tetapi menjadi bagian dari rangkaian pelayanan sejak deteksi hingga tindak lanjut.

Model pelayanan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat akses kesehatan bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pelayanan. Dinkes Kukar berupaya membawa layanan spesialis lebih dekat kepada kelompok yang menghadapi hambatan geografis, sembari tetap menggunakan mekanisme rujukan ketika dibutuhkan.

Selain pelayanan kepada ibu hamil, dokter obgyn yang turun ke lapangan juga memberikan edukasi kepada masyarakat. Dengan demikian, kunjungan tidak hanya berorientasi pada pemeriksaan pasien, tetapi turut memperkuat pemahaman masyarakat mengenai kesehatan kehamilan.

Ismi menegaskan layanan spesialis ke wilayah sulit akses merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan kondisi geografis tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk memperoleh pelayanan yang dibutuhkan. 

“Kita melakukan pelayanan, jadi dokter obgyn itu melakukan kegiatan pemeriksaan USG, penyuluhan kepada masyarakat,” pungkasnya. (adv)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)